PerCa Indonesia menghadiri undangan dari Komisariat Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) yang bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM dalam acara yang bertemakan “Rayakan Keberagaman #BersamaPengungsi” (Celebrating Diversity #WithRefugees). Acara diadakan tanggal 25 Juli 2017, di Ice Palace, Lantai 4, Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Jam 10.00 – 13.00 WIB

Dalam sambutannya Bapak Agung Sampurno (Kepala Bagian Humas Kementerian Hukum dan HAM) menjelaskan tujuan diadakan acara ini adalah untuk merubah mindset masyarakat luas bahwa bahwa dalam menangani masalah pengungsi, Ditjen Imigrasi bukan hanya melakukan penegakan hukum saja, namun melakukan penanganan dan pembinaan kaum pengungsi dengan sisi humanis.

Sejak bulan Desember 2016, Ditjen Imigrasi diberikan kewenangan dan tanggung jawab baru yaitu menangani pengungsi dari luar negeri yang terdampar atau berada di Indonesia. Dengan adanya regulasi ini maka tersedia kerangka hukum bagi Ditjen Imigrasi dalam melakukan tugasnya secara lebih luas.

Acara hari ini merupakan rangkaian program kegiatan, dimana pada hari sebelumnya diadakan acara Forum Group Discussion yang membahas mengenai Implementasi PP 125 Tahun 2016.

Selanjutnya Mr. Thomas Vargas, Representative UNHCR, menyampaikan sambutannya dengan menyatakan kekagumannya akan keragaman budaya, suku bangsa dan Bahasa di Indonesia yang sangat istimewa, dan ia yakin hal ini tidak dimiliki oleh bangsa lain. Kehadiran pengungsi di Indonesia, menjadi bukti penerimaan yang istimewa dari negara Indonesia, dimana pemerintah dan masyarakat terbuka, bahkan berupaya membantu kaum pengungsi, dengan tempat tinggal sementara, pelatihan/skill tambahan, sehingga di negara tujuan nanti, para pengungsi memiliki daya dan kemampuan dalam melangsungkan hidup. Beliau menyampaikan dewasa ini kurang lebih ada 14.000 pengungsi yang tinggal di Indonesia. Mereka ditampung di rumah Detensi Imigrasi, yayasan dan rumah singgah, hingga tiba waktunya bagi mereka untuk re-settlement ke negara tujuan, atau bahkan repatriasi kembali ke negara semula, bila situasi keamanan sudah kondusif.

Setelah pidato selesai kami pun menonton pertunjukan tari, drama serta musik tradisional dan modern dari anak-anak dan remaja pengungsi, yang berasal dari Afghanistan, Somalia dan Ethiopia. Rasa haru menyelimuti karena bagaimana pun mereka adalah orang-orang yang tercerabut secara paksa dari rumah dan kampung halaman, berusaha mencari keselamatan di negara lain.